Ketika AlQur’an Dipertanyakan
Wednesday December 28th 2005, 4:52 pm
Filed under: Religion, Science, Tips & Trik

Imageshayatulislam.net
– Hembusan angin liberalisme yang diusung oleh JIL telah berhasil
membawa kita ke dalam dunia baru, dunia dimana pluralisme agama menjadi
sebuah standar baku dalam kehidupan sehari-hari. Umat Islam di
Indonesia sekarang memasuki babak baru yang sangat menentukan masa
depannya. Arus sekularisasi dan liberalisasi yang kini diusung dan
digelindingkan sendiri oleh sejumlah tokoh, kampus, dan organisasi
Islam, telah menemukan bentuknya yang mendekati apa yang terjadi di
dunia Kristen. Gagasan liberalisasi yang ratusan tahun lalu
digelindingkan di dunia Yahudi dan Kristen kini dipaksakan kepada
Islam. Maka, apa yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh umat
Islam, sekarang sudah mulai harus dipikirkan.*1)

Salah
satu isu sentral yang digulirkan oleh kaum liberal kepada kaum muslimin
adalah pengugatan terhadap keotentikan al-Qur’an. Mereka mulai
mempertanyakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi.
Pengugatan demi pengugatan dilakukan, dengan tujuan untuk meruntuhkan
keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bahwa
al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, bebas dari
kesalahan. Mereka mengabaikan bukti-bukti al-Qur’an yang menjelaskan
tentang otentisitas al-Qur’an, dan kekeliruan dari kitab-kitab agama
lain. Mereka menutup diri dari firman-firman-Nya:

 

"Yaitu
orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.
Mereka berkata: ‘Kami mendengar’, tetapi kami tidak mau menurutinya.
Dan (mereka mengatakan pula): ‘Dengarlah’ sedang kamu sebenarnya tidak
mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): ‘Râ’ina’, dengan
memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan:
‘Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami’,
tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah
mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali
iman yang sangat tipis.
" (Qs. an-Nisâ’ [4]: 46).

 

"Apakah
kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal
segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya
setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?
" (Qs. al-Baqarah [2]: 75).

 

"Maka
kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan
tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, untuk
memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka
kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh
tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat
apa yang mereka kerjakan.
" (Qs. al-Baqarah [2]: 79).

 

 

 

Itulah
penjelasan al-Qur’an tentang kitab-kitab kaum Yahudi dan Kristen.
Semestinya, sebagai orang yang mengaku Muslim, tentu ayat-ayat
al-Qur’an itu menjadi pegangan hidup dan pedoman berpikirnya. Sebab,
al-Qur’an adalah landasan utama keimanan seorang Muslim. Jika tidak mau
mengakui kebenaran al-Qur’an, untuk apa mengaku Muslim! Konsistensi
berpikir semacam ini sangat penting, sehingga tidak memunculkan
kerancuan dan ketidakjujuran dalam beragama. Bagi kaum Kristen yang
percaya Injil, tentu akan menolak al-Qur’an. Itu sudah normal dan
wajar. Aneh, kalau seorang tetap mengaku Kristen, tetapi pada saat yang
sama juga mengaku percaya kepada kenabian Muhammad Saw dan kebenaran
al-Qur’an. Maka, adalah aneh dan keluar dari logika normal, kalau ada
yang mengaku Muslim tetapi mengingkari kesucian al-Qur’an dan sekaligus
juga mengimani kesucian kitab-kitab agama lain saat ini, yang sudah
jelas-jelas banyak bagiannya bertentangan dengan al-Qur’an.*2)

Selain
mereka tidak percaya dengan otentitas al-Qur’an sebagai kalamullah,
kaum liberal juga sangat agresif dalam mempropagandakan ide-ide
liberalnya kepada kaum muslimin. Ide-ide gila yang dibungkus dengan
kemasan menarik dengan bumbu-bumbu ilmiyah seperti membius kaum
muslimin yang memang sangat dangkal berfikirnya. Tidaklah heran jika
kemudian kaum muslimin justru menjadi pendukung setia dari
jargon-jargon yang dilontarkan.

 

Ada dua  agenda besar kaum liberalis untuk di "jejalkan" kepada kaum muslimin, khususnya di Indonesia ini, diantaranya adalah:

              1. Intrepetasi      ulang pemahaman teks-teks al-Qur’an.   

Al-Qur’an yang memang mereka sendiri telah mengatakan tidak mempercayainya sebagai satu-satunya Teks Illahiah mulai
mengotak-atik makna-maknanya. Mereka memaksakan study tentang al-Qur’an
disamakan dengan study mengenai Baibel. Maka masuklah tafsir yang
berpijak pada hermaunetik, sehingga dengan alasan study al-Qur’an multi approach menjadikan
kaum liberal boleh memaknai al-Qur’an sekehendak hati mereka. Karena
bagi mereka al-Qur’an itu hanyalah teks-teks yang profan dan fleksibel.

 

Lebih dasyat lagi seperti yang ditulis dalam buku Lubang Hitam Agama menyatakan "Bahkan
sesungguhnya hakikat al-Qur’an bukanlah ‘teks verbal’ yang terdiri atas
6666 ayat bikinan Usman itu melainkan gumpalan-gumpalan gagasan.
"*3)
Sehingga karena al-Qur’an itu adalah gagasan-gagasan, kaum muslimin
boleh dan sah-sah saja melakukan re intepretasi ulang makna-makna teks.

 

Sebagai
contoh, makna jihad dipaksa untuk diintrepetasikan kedalam makna yang
lebih soft. Jihad yang difahami al-qital oleh kaum muslimin telah
diklaim sebagai penyebab utama muculnya terorisme agama, fanatisme
agama dan fundamentalisme agama. Bukan hanya jihad saja tentunya yang
harus di intrepasikan ulang, bahkan makna-makna yang telah qath’i
seperti sholat, rajam, potong tangan, dan lain sebagainya bisa
dilakukan reitpretasi ulang. Karena bagi mereka hukum harus mengikuti
kondisi masyarakat.

 

Alasan
seperti ini sangatlah tidak masuk akal. Mereka memahami al-Qur’an
seperti Bibel yang sangat debatable. Studi-studi yang dilakukan
menunjukkan bahwa pendekatan kajian teks harus meninjau ulang bagaimana
social, histories, kultur sang penulis itu sendiri. Dan metodologi
seperti ini hanya bisa diterapkan ketika mempelajari bibel, sedangkan
ketika mempelajari al-Qur’an jelas tidak dapat diterapkan. Bagaimana
bisa mereka memaksakan untuk melakukan pendekatan hermenuetika terhadap
al-Qur’an? Padalah sudah jelas bahwa al-Qur’an itu adalah kalamullah
yang berasal dari Allah yang secara aqli dapat dibuktikan kebenarannya.

 

Mungkin
mereka melihat celah pemahaman kaum muslimin memang berada pada
keyakinan mereka terhadap al-Qur’an. Keyakinan yang dibangun oleh kaum
muslimin adalah keyakinan dokmatis, sehingga sangat rapuh dan
memungkinkan untuk diserang balik. Kaum muslimin tidak mampu
berargumentasi ketika al-Qur’an mereka diserang oleh kaum liberalis,
sehingga yang ada justru mereka sendiri yang kemudian larut dalam
hegemoni liberalisme yang di "paksakan" kepadanya.

              2. Dekontruksi      Kitab Suci.   

Seperti
yang telah dipaparkan diatas, bahwa kaum liberal sangat tidak rela
apabila hanya al-Qur’an sajalah yang dianggap kitab suci dengan
menafikkan kitab-kitab yang lain. Ketakutan kaum liberal terhadap Thurt Claim dengan mengatakan orang diluar Islam adalah kafir,
mengakibatkan dendam yang begitu dalam terhadap Islam. Sehingga dengan
berbagai upaya mereka melakukan serangan-serangan terhadap Islam dan
kaum muslimin. Dan mereka menganggap bahwa sumber dari semuanya itu
adalah pemahaman akan "suci" dan "absoulute"-nya al-Qur’an.

 

Upaya-upaya
yang dilakukan oleh kaum liberal sangatlah beragam. Dari mulai
menghembuskan keragu-raguan dikalangan para intelektual muslim dengan
menyerang keotentikan teks-teks al-Qur’an. Menurut mereka teks-teks
al-Qur’an juga debatable, penuh perselisihan. Bahkan muskhaf Usmani
yang sekarang diyakini sebagai The Original Script of Qur’an diserang
sebagai hegemoni kaum Qurais terhadap Islam, sehingga menafikan
muskhaf-muskhaf yang telah dikumpulkan oleh sahabat-sahabat yang lain
seperti Ibnu Abas. Mereka mengatakan "Kita tahu, al-Qur’an yang
dibaca oleh jutaan umat Islam sekarang ini adalah teks hasil kodifikasi
untuk tidak menyebut ‘kesepakatan terselubung’ antara Khalifah Usman
(644-656M) dengan panitia pengumpul yang dipimpin Zaid bin Tsabit,
sehingga teks ini disebut Mushaf Usmani.
"*4)"

 

 

 

Mereka
juga mempertanyakan otentisitas wahyu. Dengan mengulirkan perbincangan
apa sebenarnya wahyu itu? Apakah wahyu itu teks itu sendiri ataukah
wahyu itu adalah makna-makna yang terkandung dalam teks. Mereka
mengatakan "al-Qur’an bagi saya hanyalah berisi semacam ’spirit ketuhanan’ yang kemudian dirumuskan redaksinya oleh Nabi."*5) "Oleh
karena itu, Nabi, sahabat, dan pengalaman komunitas Mekkah dan Madinah
(tajribatul madinah wa makkah) pada hakikatnya adalah ‘co-author’
karena ikut ‘menciptakan’ al-Qur’an
."*6) Bahkan mereka menuduh
bahwa kodifikasi al-Qur’an yang dilakukan oleh Ustman adalah tipu
muslihat semata. Mereka menyebutkan "al-Qur’an, sehingga menjadi
‘Kitab Suci’ (sengaja saya pakai tanda kutip) juga tidak lepas dari
peran serta ‘tangan-tangan gaib’ yang bekerja di balik layar maupun
diatas panggung politik kekuasaan untuk memapankan status al-Qur’an.
Dengan kata lain, ada proses historis yang amat pelik dalam sejarah
pembukuan al-Qur’an hingga teks ini menjadi sebuah korpus resmi yang
diakui secara konsensus oleh semua umat Islam. Proses otorisasi
sepanjang masa terhadap al-Qur’an menjadikan kitab ini sebuah scripto
sacra yang disanjung, dihormati, diagungkan, disakralkan dan
dimitoskan. Padahal sebagian dari proses otorisasi itu berjalan dan
berkelindan dengan persoalan-persoalan politik yang murni milik Bangsa
Arab. Bahkan proses turunnya ayat-ayat al-Qur’an sendiri tidak lepas
dari ‘intervensi’ Quraisy sebagai suku mayoritas Arab.
"*7)

Mereka memiliki secret agenda
dalam melemparkan tuduhan-tuduhan tersebut. Agenda yang sangat jelas
adalah menghancurkan status al-Qur’an sebagai kalamullah (dekontruksi
al-Qur’an), sehingga ketika kaum muslimin sudah tidak lagi menganggap
al-Qur’an itu dari Allah, tentunya agenda-agenda yang lebih besar lagi
akan menyusulnya. Tentu kita tidak bisa tinggal diam menghadapi fitnah
pemikiran seperti ini. Kita harus berupaya dengan keras menjelaskan
al-Qur’an itu kalamullah secara aqli. Baik penjelasan yang paripurna
mengenai proses penyampaian wahyu oleh Allah kepada Muhammad,
penulisannya oleh para sahabat dalam lembaran-lembaran kulit,
kemungkinan apakah al-Qur’an bisa diciptakan kecuali Allah adalah
sesuatu yang batil. Bahkan al-Qur’an sendiri menantang untuk
menciptakan ayat yang serupa:

 
"Dan
jika kamu  dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada
hamba Kami , buatlah  satu surat  yang semisal al-Qur’an itu dan
ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang
benar.
" (Qs. al-Baqarah [2]: 23).
Kita juga harus menjelaskan bagaimana kodifikasi al-Qur’an oleh Ustman,
bagaimana penyeleksian teks-teks dari banyak lembaran. Ustman hanya
mengambil teks-teks yang memiliki status mutawatir, sehingga tidak
dapat diragukan sama sekali status kehujahannya. Bagaimana mungkin
sebuah kitab suci mengandung keraguan walaupun hanya sedikit?
 

Apabila
kita melihat lebih mendalam lagi upaya-upaya dekontruksi al-Qur’an
sebagai "lembaga formal teks-teks agama", ternyata ada sebuah
"ketakutan" yang tak tertutupi oleh bualan-bualan ilmiyah mereka. Kaum
liberalis berkeinginan melenyapkan sama sekali pemahaman Islam Kâffah
dalam benak kaum muslimin. Karena disadari oleh mereka, hal itu akan
sangat membahayakan eksistensi dari "agama baru" yang sedang mereka
perjuangkan.

 

Tak
dapat dipungkiri pula bahwa scenario global sekulerisasi dunia-dunia
Islam oleh barat telah menjadikan seluruh agenda yang diperjuangkan
berporos pada scenario tersebut. Dukungan kuat dari barat jugalah yang
menyebabkan posisioning gerakan liberalisme mendapatkan posisi yang
kuat dikalangan penguasa. Penguasa lebih berkesan "melindungi" mereka,
walaupun dengan jelas-jelas lembaga formal keagamaan seperti MUI telah
melarang penyebarannya. Sehingga dengan backing kuat dari barat dan
para penguasa muslim menyebabkan kaum liberal semakin gencar dalam
mempropagandakan ide-idenya.

 

Melihat
kenyataan diatas, mau tidak mau kaum muslimin harus melakukan
pembaharuan pemahaman mengenai Islam khususnya mengenai tiga hal.
Karena segala bentuk keragu-raguan itu berawal dari ketidak jelasan
argumentasi kaum muslimin terhadap tiga hal tersebut.

              1. Allah      itu wujud   

Kaum
muslimin mungkin telah sepakat bahwa Allah itu ada/wujud, tetapi apakah
kaum muslimin bisa berargumentasi untuk membuktikan keberadaan Allah?
Kaum muslimin banyak dijejali dengan faham-faham materialisme sehingga
keberadaan Allah di alam ini menjadi sebuah kemungkinan saja. Kaum
intelektual barat yang kafir memberikan banyak teori dari penciptaan
alam semesta (teori kabut nebula, big bank, bintang kembar, dll) yang
menafikkan sama sekali keberadaan pencipta (al-khaliq). Tidak
hanya itu saja, kaum muslimin juga dipaksa untuk tunduk kepada teori
evolusi Darwin yang memaksa untuk membuang keberadaan Tuhan. Terus dari
mana lagi kaum muslimin mendapatkan bukti akan adanya Allah sebagai
pencipta alam semesta ini?

 

Sekarang
marilah kita renungkan, susunan struktur alam semesta ini terlalu
kompleks untuk tercipta secara kebetulan. Struktur tata surya juga
terlalu naïf kalau dikatakan sebagai kejadian tak terduga sehingga
memungkinkan untuk ditempati oleh makhluk hidup. Mengapa hanya planet
bumi yang hanya bisa ditempati oleh makhluk hidup, apakah ini juga
merupakan kebetulan dari berbagai macam teori penciptaan? Mengapa hanya
bumi yang memiliki sumbu rotasi condong 23 drajat sehingga
mengakibatkan penjagaan suhu, debit air laut tidak berubah atau relatif
stabil sehingga tidak mengalami banjir akibat pencairan es di
kutub-kutubnya?

 

Bisakan
alam semesta ini mengatur dirinya sehingga bisa eksis dengan dirinya
itu sendiri. Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu sungguhlah menjadi
bukti akan adanya Allah sebagai pencipta alam semesta ini. Masihkah ada
yang bisa menyangkal kebenaran akan hal ini?

 

Allah
SWT menciptakan alam semesta dan seluruh isinya ini adalah untuk
dijadikan renungan bagi manusia untuk berfikir. Karena hanya dengan
berfikir itulah manusia itu menjadi makhluk yang mulia di bandung
dengan makhluk-makhluk lainnya. Allah berfirman:

 

"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang,
bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,
dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu
Dia hidupkan bumi sesudah mati -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala
jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara
langit dan bumi; sungguh tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan.
" (Qs. al-Baqarah [2]: 164).

 

Juga firmannya:

 

"Maka
apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan
langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia
ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
" (Qs. al-Ghâsyiyah [88]: 17-20).

              2. Al-Qur’an      adalah Kalamullah   

Keberadaan al-Qur’an sebagai kalamullah harus diyakini secara qath’i dengan pembenaran yang tashdiq al-jazm (pembenaran
yang pasti). Melakukan pembenaran terhada al-Qur’an adalah kalamullah
tentunya tidak bisa menggunakan argumentasi yang berasal dari al-Qur’an
itu sendiri. Kebanyakan kaum muslimin membangun keyakinan bahwa
Al-Qur’an adalah kalamullah adalah berasal dari al-Qur’an itu sendiri.
Sehingga merekapun tidak bisa menolak ketika orang-orang Kristen dan
Yahudi mengatakan bahwa Injil dan Taurot itu adalah juga merupakan
kalamullah. Walaupun mereka bisa memahami bahwa kedua kitab tersebut
sudah tidak orisinil lagi keotentikannya sebagai wahyu.

 

Artinya
bahwa eksistensi al-Qur’an sebagai kalamullah haruslah dibuktikan dari
sesuatu yang berasal diluar al-Qur’an itu sendiri, yaitu berasal dari
akal. Karena akal akan mampu memahami dengan jelas bahwa hanya Allah
lah yang mampu membuat al-Qur’an.

 

Kita
bisa membangun keyakinan itu dengan menanyakan kembali berbagai
kemungkinan siapa sebenarnya pembuat al-Qur’an itu. Ada 3 kemungkinan
yang bisa kita dapatkan.

 

a. Al-Qur’an diciptakan oleh orang Arab?!

 

Ketika
kita meneliti apakah benar bahwa al-Qur’an diciptakan oleh orang arab?
Kita harus menengok kembali sejarah kenabian Muhammad. Memang benar
Muhammad diutus ditengah-tengah kaum yang menggunakan bahasa arab.
Tentunya wajar anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa al-Qur’an
berasal dari orang arab, karena pada kenyataannya al-Qur’an menggunakan
bahasa arab.

 

Tetapi
kita akan segera membuang dugaan tersebut. Karena ketika kita membaca
sirah nabawiyah, atau sejarah yang objektif, akan kita dapati bahwa
ketika komunitas qurais menuduhkan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad
bukan dari Allah tetapi dari orang-orang arab, Allah langsung menantang
mereka (orang-orang Qurais) untuk menandinginya. Membuat 10 surat yang
semisal, atau bahkan 1 surat yang semisal dengannya. Seperti dalam
firman-Nya:

 

"Dan
jika kamu  dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada
hamba Kami , buatlah  satu surat  yang semisal al-Qur’an itu dan
ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang
benar.
" (Qs. al-Baqarah [2]: 23).

Mereka
berbondong-bondong untuk mejawab tantangan al-Qur’an, tetapi pada
kenyataannya mereka tetap gagal. Dan mereka tidak akan mungkin pernah
bisa dan tidak akan pernah berhasil untuk menandingi al-Qur’an. Allah
telah menegaskan kenyataan ini dalam firman-Nya:

"Maka
jika kamu tidak dapat membuat - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat
-, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu,
yang disediakan bagi orang-orang kafir.
" (Qs. al-Baqarah [2]: 24).

 

   

b. Al-Qur’an adalah buatan Muhammad.

   
Tuduhan ini juga tidak beralasan sama sekali, ketika kita merenungkan
kembali tantangan al-Qur’an, bahwa kaum Qurais dari golongan
orang-orang yang pandai membuat syair, sastrawan semua berkumpul untuk
mencoba menandingi al-Qur’an tetapi mereka gagal. Bagaimana mungkin
seorang Muhammad yang juga berasal dari orang Arab yang ummi, tidak
pandai bersyair dapat membuat al-Qur’an. Dan apabila kita amati tata
bahasa al-Qur’an sangat-sangat berbeda dengan Hadist yang itu
jelas-jelas berasal dari Muhammad.

 

   

c. Al-Qur’an itu Kalamullah (berasal dari Allah SWT)

Ketika 2 kemungkinan diatas telah terpatahkan secara aqli, tentunya
tidak ada kemungkinan lain lagi kecuali bahwa al-Qur’an itu adalah
kalamullah. Marilah kita renungkan kembali firman Allah:

"Yang
demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan al-Kitab dengan
membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih
tentang  al-Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh.
" (Qs. al-Baqarah [2]: 176).

   

 
 
 

          3. Muhammad      Itu Adalah Rasulullah   

Kaum
muslimin juga harus bisa melakukan argumentasi untuk menjelaskan bahwa
Muhammad itu adalah nabi dan rasul. Muhammad adalah penutup para nabi.

 

Oleh
karena Nabi Muhammad adalah orang yang membawa al-Qur’an yang merupakan
Kalamullah (yang tadi telah kita buktikan kebenarannya) yang merupakan
merupakan firman dan syariat Allah, serta tidak ada yang membawa
syariat-Nya kecuali seorang nabi dan rosul, maka berdasarkan akal dapat
diyakini bahwa Muhammad itu adalah seorang nabi dan rasul.*8)

 

Ketika
seorang muslim tidak memahami ketiga hal tersebut, pasti iman yang
telah dibangun olehnya adalah iman yang dokmatis belaka, dan itu
merupakan iman yang labil. Tentunya kita tidak menginginkan hal
tersebut. Oleh karena itu untuk menangulangi serangan-serangan dari
kaum liberal yang penuh kedengkian kepada Islam, kita harus melakukan
beberapa hal sebagai berikut.

 
  1. Melakukan
    penyadaran internal kepada setiap muslim melalui kajian yang mendalam
    dalam perhalaqohan secara intensif, sehingga terpecahkan segala
    kebimbangan, keraguan yang mungkin telah hinggap didada kaum muslimin.
    Karena hanya dengan cara tersebutlah keimanan seorang muslim itu akan
    mantap, tidak mudah terombang ambing oleh bualan-bualan sampah kaum
    liberal.
  2. Melakukan
    Ghozful Fikri, perang pemikiran terhadap ide-ide sesat yang sengaja
    dilontarkan oleh orang-orang liberal. Karena pemikiran hanya akan bisa
    dikalahkan dengan pemikiran semata. Pemikiran tidak bisa dikalahkan
    dengan kekuatan fisik.
  3. Melakukan
    upaya yang serius untuk menerapkan Syariat Allah melalui tegaknya
    Daulah Khilafah Islamiyah, karena hanya dengan tegaknya Daulah Islamlah
    pemikiran-pemikiran sesat itu akan dapat dieliminir secara sistemik.
    Karena negara adalah penjaga aqidah ummat. Hilangnya peran negara
    sekarang ini menjadikan kristenisasi, sekulerisasi dan liberalisasi
    kaum muslimin meraja lela.
Semoga
perjuangan untuk menegakkan kalimatullah yang khak dengan menerapkan
al-Qur’an dan Sunah Rosulullah kedalam kehidupan sehari-hari dapat
segera terlaksana. Kalau bukan kita yang akan melakukannya, kita akan
berharap kepada siapa lagi? Walllahu’alam.
 
 
Catatan Kaki:
1. Jakarta, 29 April 2005/Hidayatullah.com
2. ibid
3. Sumanto Al Qurtuby, Lobang Hitam Agama, (Yogyakarta: Rumah Kata, 2005), Hal 42
4. Ibid, Hal 65
5. Ibid, Hal 42
6. Ibid, Hal 43
7. Ibid, Hal 65
8. Taqiyuddin an-Nabhani, Peraturan Hidup Dalam Islam, (Bogor: Pustaka Thoriqul Izzah)

Last Updated ( Tuesday, 27 December 2005 )

Oleh: Sigit Nur Setiyawan



Definisi Islam (Perbandingan)
Monday December 05th 2005, 7:39 pm
Filed under: Religion, Science, Tips & Trik, Tutorial, Web/Tech, Weblogs

Islam adalah
"agama samawi yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah
Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya
sendiri dan dengan sesama manusia lainnya
".



Definisi ini diambil dari beberapa nash (dalil),
baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Definisi itu sendiri merupakan deskripsi yang
sesuai realitas, yang mempunyai ciri khas: jami’ (mencakup semua aspek
realitas yang dideskripsikan) dan mani’ (mencegah semua aspek yang
tidak masuk dalam deskripsi tersebut). Inilah gambaran tentang definisi yang
benar.

Batasan Islam, bahwa Islam
adalah: "agama samawi yang diturunkan oleh Allah SWT" telah
mengecualikan agama lain yang disifatkan sebagai agama yang tidak diturunkan
oleh Allah SWT. Ini meliputi agama-agama yang tidak diturunkan Allah SWT, baik
Hindu, Budha, Sintoisme, Confucious, ataupun yang lain.

Sedangkan batasan: "kepada
Rasulullah Muhammad saw
" mengecualikan agama yang lain, selain agama
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, baik agama yang diturunkan kepada
Nabi Musa, Isa maupun yang lain. Apakah Kristen, Yahudi ataukah agama-agama
Nabi dan Rasul yang lain.

Adapun batasan: "untuk
mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan
sesama manusia lainnya
", berarti meliputi seluruh urusan, mulai dari
urusan dunia dan akhirat, baik berkenaan dengan dosa, pahala, surga, neraka
ataupun aqidah, ibadah, ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dan
sebagainya.

Semuanya ini dijelaskan oleh
nash-nash antara lain:

"Sesungguhnya agama
(yang diridloi) di sisi Allah hanyalah Islam…
" (TQS. Ali
Imran: 19
)

Ayat ini menerangkan tentang
kedudukan Islam sebagai agama samawi yang diturunkan oleh Allah kepada manusia.
Namun ketika Allah menjelaskan: "Sesungguhnya agama di sisi Allah
hanyalah Islam
", itu bermakna bahwa agama yang lain, yang pernah
diturunkan oleh Allah tidak diakui lagi oleh Allah, setelah diturunkannya
Islam. Dan ini dikuatkan dengan firman Allah SWT:

"Hari ini telah Aku
sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan untukmu nikmatKu, serta Aku
ridloi Islam sebagai agamamu
" (TQS. Al-Maaidah: 3)

Ayat ini menerangkan, bahwa
hanya Islamlah yang diridloi Allah SWT, sedangkan yang lain tidak. Ini bisa
dipahami dari mafhum mukhalafah (makna sebaliknya) kata "Aku
ridloi
" yang merupakan kata kerja yang bermakna sifat "Aku
ridloi Islam sebagai agamamu
", artinya, "selain Islam, Aku
tidak ridloi
". Mafhum ini diperkuat oleh nash berikut:

"Barangsiapa mencari
selain Islam sebagai agama, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)
darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi
" (TQS.
Ali Imran: 85
)

Ayat ini dengan jelas
menyebutkan kata "Islam" sebagai "din"
(agama). Sedangkan kata yang sama, "Islam", tidak pernah
satupun disebutkan oleh Al-Qur’an untuk menyebut nama agama-agama Nabi
terdahulu. Kalau pun disebutkan dengan menggunakan bahasa yang tidak jelas (mubham),
seperti:

"Sesungguhnya Kami
telah mewahyukan kepadamu (Muhammad), sama seperti yang telah Kami wahyukan
kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya
" (TQS. An-Nisaa’: 163)

"Kemudian Kami
wahyukan kepadamu untuk mengikuti ‘millah’ Ibrahim yang lurus
" (TQS.
An-Nahl: 123
)

Kedua ayat di atas menerangkan:
"Kami telah mewahyukan kepadamu, sama seperti yang telah Kami wahyukan
kepada Nuh
" adalah ayat yang bermakna umum. Kata "Kami telah
mewahyukan
" bisa jadi meliputi aqidah (yakni ajaran tauhid)
ataupun syari’ah (yakni hukum), baik meliputi salah satu ataupun
keduanya sekaligus. Demikian pula kata "mengikuti millah Ibrahim"
adalah bermakna umum. Yang bisa jadi meliputi aqidah dan syari’ah. Namun jika
kedua-duanya itu yang dimaksudkan, sudah tentu bertentangan dengan nash yang muhkamat:

"Untuk masing-masing
(ummat) diantara kamu, telah Kami tetapkan aturan dan syari’atnya
sendiri-sendiri
" (TQS. Al-Maaidah: 48)

Oleh karena itu, pengertian
yang tepat dan tidak bertentangan antara satu nash dengan nash yang lain,
adalah: "Kami telah mewahyukan prinsip tauhid yang sama dengan apa
yang Kami wahyukan kepada Nuh
". Termasuk makna "Mengikuti
millah Ibrahim
" adalah "mengikuti prinsip tauhid Ibrahim
yang lurus
". Meskipun dalam masalah syari’at berbeda. Sebab: "masing-masing
telah Kami tetapkan aturan dan syari’atnya sendiri-sendiri
".

Adapun pernyataan yang
menggunakan kata "Aslamtu ma’a Sulaiman" (QS
An-Naml: 44
) yang dikemukakan oleh Ratu Balqis, sedikit pun tidak
menunjukkan bahwa Balqis memeluk Islam dan agama Nabi Sulaiman adalah Islam.
Tetapi makna ayat tersebut adalah "Aku tunduk kepada Sulaiman dan
agamanya
". Sebab, tidak ada qarinah (indikasi) yang
menerangkan maksud itu. Antara lain, tidak ada kata "Islam"
dan "din" yang disebutkan dalam konteks kalimat tersebut
sebagai nama agama Nabi Sulaiman. Meskipun kata "Aslamtu"
adalah satu akar dengan kata "Islam". Sebab, tidak selamanya
kata yang satu akar memiliki makna yang sama. Contohnya, kata " Jama’a
" dengan kata " Jima’ " jelas maknanya berbeda.
"Jama’a" artinya mengumpulkan, sedangkan " Jima’ "
artinya bersetubuh. Padahal kedua-duanya adalah satu akar, yang mengikuti wazan
(pola) yang sama. Disamping itu, kata "Asalama" bisa
diartikan "tunduk dan patuh" sebagaimana makna bahasanya.
Termasuk dalam hal ini adalah kata: "Muslim dan Muslimin".

Alasan lain adalah, bahwa
pembahasan "Apakah agama Nabi terdahulu adalah Islam ataukah tidak?"
adalah pembahasan aqidah yang diterangkan oleh Al-Qur’an dalam bentuk kisah (qashas),
yang menceritakan sesuatu yang tidak ada realitasnya saat ini. Maka, untuk
membuktikannya hanya bisa dilakukan melalui nash yang qath’i (pasti).
Sedangkan nash yang qath’i tidak ada satu pun yang menerangkan
pengertian ini. Kecuali dengan teks yang global: "Asalamtu, Muslimun,
Muslim,…" dan sebagainya. Tanpa disertai qarinah yang
menerangkan pengertian syara’ nya. Sehingga nash-nash tersebut tidak
bisa diartikan demikian.

Diambil dari : Kersani



Sekedar Mengingatkan Kembali … Apa itu ISLAM
Monday December 05th 2005, 6:40 pm
Filed under: Religion, Science, Tips & Trik, Tutorial, Web/Tech, Weblogs

Ternyata … Islam itu …. Tidak seperti yang aku dan kebanyakan orang membayangkannya … Bingung … ku memikirnya …

Tapi … Sekarang ngga lagi !!!

Islam dalam pengertian bahasa berasal dari kata aslama = tunduk & patuh
Sedangkan menurut istilah … Islam adalah Agama yang diturunkan Alloh kepada Nabi Muhammad saw yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia. Untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

  • Islam secara istilah mengandung makna membatasi dan menyeluruh. Jadi maksud dari Islam adalah agama yang diturunkan  Alloh kepada  Nabi Muhammad saw  yaitu :
  1. Selain Agama yang diturunkan Oleh Alloh jelas Bukan agama ISLAM.
  2. Agama Islam hanya diturunkan oleh Alloh kepada Nabi Muhammad saja, selain kepada nabi Muhammad bukan ISLAM. Lalu … bagaimana dengan agama yang diturunkan Alloh kepada rasul sebelum nabi muhammad saw ??? Alloh telah menerangkan bahwa setiap rasul diutus dengan membawa syari’at nya masing masing dan hanya diperuntukan untuk kaumnya masing masing. Persamaan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan rasul yang terdahulu yaitu pada pokok pokok tauhid. Timbul pertanyaan … lalu bagaimana pernyataan alloh yg menjelaskan bahwa nabi ibrahim as dan yg lainnya merupakan dari golongan Muslim (wa huwal muslimiin), kembali kepada asal kata Islam secara bahasa islam = tunduk & patuh; Muslim = orang yg patuh & tunduk maksudnya kepada Alloh.
  • Islam mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, seperti ibadah mahdhoh(Sholat, shaum, Zakat,etc.) dan tata cara pelaksanaanya.
  • Kemudian Islam mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti dalam hal akhlaq, keimanan, makanan & minuman, berpakaian, etc.
  • Yang terakhir Islam mengatur hubungan manusia dengan manusia, dimulai dari masyarakat terkecil seperti keluarga hingga ketatanegaraan yang termasuk didalamnya politik, ekonomi, sosial  budaya, pertahanan & keamanan (poleksosbud hankam) diatur dalam Islam

Jadi Jelas Tidak Sesuatu pun yg tidak diatur dalam Islam.